Kedutaan Besar Australia
Indonesia

Menelaah Tantangan Bersama dan Peluang Baru Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Siaran Media

22 November 2016

Enam puluh ilmuwan Indonesia akan melakukan perjalanan ke Australia untuk mengikuti Simposium Sains Australia-Indonesian yang perdana pada (28 November – 1 Desember 2016).

Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Dr Justin Lee berujar Simposium ini, yang diselenggarakan di Canberra, akan menjadi katalis kolaborasi ilmiah lebih lanjut dan peluang penelitian pada isu-isu yang menjadi keprihatinan bersama.

Simposium empat hari ini akan menghimpun lebih dari 120 ilmuwan Indonesia dan Australia serta fokus pada penyakit kronis dan menular, konservasi laut dan peningkatan kerja sama pertanian. Juga akan berlangsung diskusi tentang peluang-peluang yang ditawarkan oleh data besar dan teknologi-teknologi yang sedang muncul.

“Dalam dasawarsa mendatang, teknologi seperti genomic generasi selanjutnya, Internet of Things, cloud computing, dan bahan-bahan ‘pintar’ akan mempunyai dampak sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang transformatif,” tutur Dr Lee.

Kemajuan dalam bidang robotika berpotensi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam pabrikan sementara ilmu kedokteran nano (nanomedicine) dapat digunakan untuk mengirimkan obat ke target secara tepat. Genomik dapat digunakan untuk mengoptimalkan tanaman pangan pada tanah dan cuaca tertentu, dan wahana nir-awak dapat membantu menentukan arah, menelaah, memetakan dan memahami samudera-samudera dunia.

Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Profesor Sangkot Marzuki berujar: “Ilmuwan, pembuat kebijakan and warga negara Australia dan Indonesia perlu memahami bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membentuk ekonomi, masyarakat dan lingkungan hidup mereka maupun dampak kawasan dan global dan bekerja sama untuk memastikan bahwa manfaat-manfaatnya dapat dinikmati secara setara.”

Simposium ini dibangun di atas hubungan dan kemitraan yang telah ada antara ilmuwan, universitas dan lembaga-lembaga penelitian publik Australia dan Indonesia. Para peneliti dari kedua negara akan dapat menelaah peluang-peluang pendanaan penelitian, membicarakan jalur karir di bidang ilmu pengetahuan, dan menguji tantangan-tantangan dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebijakan.

Simposium ini, prakarsa bersama Australian Academy of Science dan  Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, didukung oleh Knowledge Sector Initiative Pemerintah Australia.


Pertanyaan Media: 
Public-affairs-jakt@dfat.gov.au 
021 25505290