Kedutaan Besar Australia
Indonesia

Batik: Indonesia dan Australia berbagi kecintaan yang sama

Siaran Media

7 Mei 2013

Batik: Indonesia dan Australia berbagi kecintaan yang sama

Para praktisi dan pakar kerajinan batik Australia dan Indonesia berbagi kecintaan yang sama terhadap batik dan berdiskusi tentang inovasi dalam pengembangan pasar dan teknik produksi batik di Semarang baru-baru ini. Tiga tokoh ternama dari dunia tekstil dan kerajinan bertandang ke Semarang untuk menghadiri Festival Internasional Batik dan Kerajinan Semarang yang perdana.

Ketiga pakar Australia terdiri dari Wakil Presiden Dewan Kerajinan Dunia untuk Asia Pasifik Dr Kevin Murray, spesialis batik Tony Dyer dan Guru Besar Madya Liz Williamson, dan kepala Kajian Rancangan di Universitas New South Wales.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, berujar Kedutaan Besar Australia gembira mendukung kelompok tersebut selama kunjungan empat-hari ke Semarang. “Festival Internasional Batik dan Kerajinan Semarang merupakan kesempatan yang luar biasa bagi beberapa tokoh terdepan Australia dalam kerajinan dan tekstil untuk memperkukuh hubungan mereka dengan rekan-rekan Indonesia mereka,” ujar Moriarty. “Ini juga suatu kesempatan yang bernilai untuk memupuk dan memajukan pertukaran lintas-budaya antara Indonesia dan Australia melalui minat bersama dalam batik dan tekstil," tuturnya.

Festival tersebut menarik perhatian peserta dari segala penjuru Indonesia dan dari luar negeri. Dr Murray berujar festival tersebut merupakan kesempatan untuk menyambut baik kembali Indonesia ke dalam Dewan Kerajinan Dunia. "Melalui Dewan Kerajinan Dunia, Indonesia akan memperoleh peluang untuk menjadi bagian dari lokakarya, konferensi dan pameran yang diselenggarakan oleh dewan tersebut," tutur Dr Murray. "Saya sungguh gembira menyaksikan demikian banyak seniman yang terlibat dalam Festival Internasional Batik dan Kerajinan Semarang dan mutu karya mereka. Yang sangat memikat adalah kekuatan kerajinan untuk menghadirkan warga Indonesia dan Australia bersama-sama, walaupun ada rintangan bahasa,” ujarnya.

Guru Besar Madya Williamson berharap untuk membantu praktisi batik Indonesia memperluas pasar untuk produk mereka dan dengan demikian meningkatkan pendapatan mereka. "Saya berharap untuk memfasilitasi kunjungan-kunjugan oleh para perancang Australia untuk bekerja sama dengan para seniman Indonesia guna memperlihatkan kepada mereka bagaimana memadukan unsur-unsur baru dan berbagai macam keterampilan yang berbeda dalam karya mereka. Dan juga untuk menambah kesadaran mereka tentang preferensi-preferensi pasar-pasar lain di luar negeri, seperti penggunaan kain yang mudah dirawat," tutur Guru Besar Williamson. "Saya juga berpikir orang akan sangat tertarik untuk mengetahui arti dari berbagai macam motif. Saya pikir orang akan mencarinya di situs Web tentang motif-motif batik," ujarnya.

"Ada beberapa batik yang sangat memikat di Semarang, mencerminkan rancangan tradisional yang telah disesuaikan dan memiliki rasa kontemporer. Secara pribadi, saya sangat menyukai rancangan-rancangan tradisional," tutur Dyer. "Di festival, ada hubungan hangat antar para praktisi batik: perasaan saling mendukung dan memahami berdasarkan kecintaan kita pada batik yang melampaui bahasa," tuturnya.

Pertanyaan Pers:
Ray Marcelo, Atase Pers tel. (021) 2550 5290 hp. 0811 1873 175

Spesialis batik dari Australia Tony Dyer sudah membatik sejak 1970.